Monday, January 9, 2012

Selesai Jalani Perbaikan, Tapi Hercules TNI AU Belum Kembali dari AS


9 Januari 2012, Jakarta: HINGGA saat ini pesawat angkut Hercules C-130 milik TNI AU belum kembali dari Amerika Serikat. Pesawat tersebut mengalami pemeliharaan structure dan airframe pesawat atau Programme Depot Maintenance (PDM) di hanggar perusahaan ARINC di Oklahoma, AS.

"Belum, tim penjemputnya juga belum berangkat," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsma Azman Yunus di Jakarta, Senin (9/1). Hercules bernomor register A-1323 itu menjalani program pemeliharaan di AS sejak Juli 2010.

Dalam jadwal, penyelesaian pemeliharaan hanya memakan waktu selama enam bulan. Dalam pemberitaan sebelumnya, Asisten Perencanaan Kepala Staf TNI AU Marsda TNI Rodi Suprasojo menyatakan pesawat akan kembali mengudara di langit Indonesia, 23 Desember 2011 lalu. Tapi, hingga saat ini, pesawat ini belum kunjung tiba.

Azman Yunus mengatakan, tim dari TNI AU akan terbang ke Amerika untuk menjemput pesawat tersebut. "Timnya sudah siap, kalau sudah selesai kami yang menjemput ke sana. (Penerbangan ke Indonesia akan) diterbangkan oleh pilot dari TNI AI," katanya. Program pemeliharaan pesawat Hercules itu dibiayai program hibah Amerika yang bertujuan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pesawat.

TNI AU Butuh 30 Unit Hercules, Tersedia Hanya 21 Unit


Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama Azman Yunus mengungkapkan kebutuhan TNI AU terhadap pesawat angkut berat jenis Hercules mencapai 30 unit. Saat ini TNI AU baru memiliki 21 unit pesawat Hercules.

"Kebutuhannya 30 unit agar bisa melakukan operasi bersamaan,"kata Azman di Jakarta, Senin (9/1).

Pesawat angkut yang dikenal tangguh ini, tambahnya, diperlukan untuk memperkuat TNI AU dalam melakukan operasi militer dan non militer, terutama operasi yang bersifat kemanusiaan. "Terutama untuk saat ini agar mudah melakukan distribusi bantuan jika terjadi bencana,"ungkapnya.

Untuk menambah kekurangan ini, TNI AU dipastikan menerima hibah empat unit pesawat Hercules dari pemerintah Australia. Dengan tambahan ini, TNI AU akan memiliki 25 unit pesawat Hercules. "Sudah pasti (hibah tersebut). Kami akan menerima empat unit Hercules tipe H,"ujar Azman.

Dikatakan Azman, tim dari Indonesia yang diantaranya dari TNI AU akan terbang untuk melakukan pengecekan kondisi pesawat tersebut. "Belum tahu, mudah-mudahan secepatnya,"imbuhnya.

Hal ini dikarenakan pemegang keputusan dan leading sector-nya adalah Kementerian Pertahanan. "Jadi tunggu saja dari Kemhan bagaimana keputusannya,"tandasnya.

Hercules Hibah dari Australia Butuh Dipermak, Tapi TNI AU Yakin Masih Oke

C-130H Hercules RAAF. (Photo: Australia DoD)

Pesawat angkut Hercules yang akan diberikan oleh pemerintah Australia sebagai bentuk hibah memerlukan perbaikan dan peremajaan. Namun begitu, kondisi ini diklaim tidak berarti pesawat bekas tersebut berkualitas rendah.

"Kami belum tahu pasti kondisinya seperti apa. Apa yang harus diperbaiki, tapi itu pesawat bagus, apalagi tipe H tipe baru," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsma Azman Yunus di Jakarta, Senin (9/1). Tim dari Indonesia akan berangkat ke Australia untuk mengecek kondisi pesawat tersebut.

Kementerian Pertahanan menjadi pemegang keputusan dalam pemberangkatan sekaligus pengadaan Hercules hibah ini.

Azman memperkirakan, pesawat tersebut memerlukan pemeliharaan structure dan airframe pesawat atau Programme Depot Maintenance (PDM). "Setelah itu baru diserahterimakan ke TNI AU," katanya.

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro Jumat (6/1) lalu mengatakan tim Indonesia dan Australia akan melakukan pertemuan untuk membahas kondisi pesawat dan teknis hibah. Hasil pembicaraan tim itu akan menjadi tolak ukur kebutuhan biaya retrofit dan kemampuan keempat pesawat itu setelah diremajakan.

Sumber: Jurnas

No comments:

Post a Comment